jump to navigation

Apa itu Irfan ? Apa itu Tasawwuf ? Juni 20, 2008

Posted by neofilsafat in tasawwuf.
add a comment

Dalam tulisan ini, kami akan memaparkan sekelumit tentang irfan dan tasawuf secara berkala. Kami ingin mencoba memperkenalkan pada pembaca tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan tasawuf dan irfan. Sebenarnya, keduanya mudah kita temukan disekitar kita. Walaupun keduanya seolah tidak begitu nampak. Sebab keduanya lebih banyak bercerita tentang aspek batiniyah manusia. Boleh dikata, kedua hal diatas hadir dalam seluruh mazhab Islam. Sebab seluruhnya menekankan bagaimana manusia mampu membersihkan jiwanya dari sifat – sifat hewaniyah sehingga bisa mencapai insan kamil. Bagaimana manusia khusyu’ dalam ibadahnya dll. Pada Intinya fokus tasawuf dan irfan pada “ qalbu “ manusia yang merupakan salah satu potensi untuk mengetahui ( lahum qulubun la yafqahuna biha ).

Istilah yang lebih akrab di telinga kita adalah Tarekat yang bermakna jalan dan pattareka’ adalah mereka yang menerjunkan dirinya dalam dunia tarekat. Qadariyah, naqsyabandiyah dan khalwatiyah adalah aliran tarekat yang mudah kita dapatkan di Indonesia. Tapi pembahasan kita kali ini tidak membahas aliran – aliran tarekat yang ada di Indonesia. Tapi focus pembahasan kita kali ini pada tasawuf dan irfan itu sendiri.

 

Apa itu Irfan ? dan siapakah yang Arif ?

Irfan secara bahasa bermakna ‘ pengetahuan ‘ dan ‘ mengetahui ‘. Sedangkan secara istilah bermakna metode atau jalan tertentu untuk sampai pada hakekat eksistensi, dan hubungan manusia pada hakekat eksistensi yang bersandar pada syuhud dan isyraq ( ilmuninasi ). Manusia untuk sampai pada derajat ini ( syuhud ) bukan melalui argumentasi dan pemikiran ataupun burhan, akan tetapi melalui tazkiyatunnafs dan memutuskan ketertarikan pada dunia dan perkara – perkara duniawi, dan seluruh keberadaan dirinya dia kerahkan pada Allah swt.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai apa itu irfan. Kami akan menukil definisi yang dipaparkan sendiri oleh para Arif. Artinya dengan mengetahui definisi mereka dengan sendirinya melazimkan kita mengetahui Irfan itu sendiri.

Abdurrahman Salmi mengatakan ; Arif adalah mereka yang mempersembahkan hatinya pada Allah swt, sedangkan tubuhnya dia persembahkan pada ciptaanNYA.

Abu Yazid Bastami suatu ketika ditanya ; “ apakah tanda – tanda Arif ? “ Beliau menjawab ; “ mereka adalah orang yang tak pernah lelah mengingat Allah swt dan hatinya tak pernah tertawan selain Allah swt “.

Kemudian Ia menambahkan ; “ barang siapa yang telah sampai pada maqam Irfan, Ia akan menjauhi segala hal yang menjauhkan dia dari Allah swt “.

Ibn Sina dalam kitabnya Isyarat wa Tanbihat menjelaskan definisi Irfan dan menjelaskan perbedaannya dengan zuhud dan Abid. Beliau mengatakan ; “ mereka yang menghindar dan menjauhi hal – hal yang sifatnya duniawi disebut dengan Zuhud, mereka yang istiqamah dalam melakukan ibadah seperti sholat, puasa dll disebut dengan Abid sedangkan mereka yang senantiasa mengerahkan seluruh keberadaanya pada Allah swt dan perhatiannya hanya kepada Alam quds ( suci  ) sehingga cahaya Ilahi termanefestasi pada dirinya disebut dengan Arif. Tentunya bisa saja ketiga hal diatas ( zuhud, abid dan arif ) berkumpul pada satu orang. Artinya orang tersebut adalah zuhud, abid dan arif sekaligus “. Selanjutnya beliau mengungkapkan bahwa ; “ yang diinginkan oleh seorang Arif hanyalah Allah swt semat dan tidak menginginkan sesuatu apapun selainnya. Ibadahnya hanya dikarenakan bahwa Dialah yang paling layak disembah, bukan karena tamak pada surga atau takut pada neraka “.

Dari defenisi yang telah dikemukakan diatas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa karekteristik seorang sufi :

  1. dengan syuhudnya mereka telah mengenal sifat – sifat dan asma’ – asma’ Allah swt.
  2. seorang Arif mengerahkan seluruh perhatiannya pada Allah swt. Dan menjauhi segala sesuatu selain Allah swt.
  3. seorang Arif memalingkan wajahnya pada sesuatu selain Allah swt, bahkan Ia menganggap bahwa selain Allah swt tidak memiliki hakekat sama sekali.

 

Prinsip – prinsip dalam Irfan

Prinsip – prinsip yang ada dalam Irfan secara universal ;

  1. dalam Irfan, titik yang paling fundamental terdapat pada qalbu. Artinya bahwa  prinsip utamanya  adalah melaksanakan seluruh syariat yang ada sebagai metode dalam pembersihan jiwa, sehingga qalbu yang merupakan alat pengetahuan ( lahum qulubun la yafqahuna biha ) bisa teraktualkan.
  2. Irfan meyakini bahwa alam eksternal ini memiliki hakekat yang satu. Ada zahirnya dan ada batinnya, zahirnya menampakkan kemajemukan sedangkan batinnya menampakkan ketunggalan.
  3. Irfan lebih banyak berurusan dengan Ilmu kehadiran ( ilmu hudhuri ). Irfan meyakini bahwa antara manusia dengan hakekat terjalin hubungan hudhuri dan syuhudi.
  4. Irfan meyakini konsep riyadhah dan mujahadah.
  5. cinta adalah sebuah unsur yang paling hakiki dalam kehidupan seorang Arif.
  6. para Arif meyakini bahwa hakekat hakiki hanya satu yaitu Allah swt.

Perlu kami jelaskan bahwa para Arif dalam menafsirkan prinsip – prinsip diatas boleh jadi berbeda. Dan dalam kesempatan ini kami hanya ingin menjelaskan prinsip – prinsipnya secara universal.

 

Apa itu tasawuf ? dan siapakah yang sufi ?

Tasawuf dalam bahasa berasal dari kata “ shauf “ yang bermakna bulu domba. Sufi adalah mereka yang  memakai baju dari bulu domba. Suhrawardi dalam kitabnya Awariful Ma’arif mengatakan ; “ asal tasawuf dari shauf lebih cocok dari asal kata yang lain. Tasawuf yaitu memakai baju dari bulu domba “. 

Para peneliti tasawuf meyakini bahwa yang pertama kali menggunakan kata tasawuf adalah Abu Hasyim Kufi ( diperkirakan wafat antara thn 153 atau 174 atau 184 hijriyah ). Oleh karena itu kata ini mulai ada di pertengahan abad pertama dan kedua hijriyah.

Tapi untuk memberikan sebuah definisi yang melliputi seluruh unsure – unsure dalam “ tasawuf  “ dan “ sufi “ bukan perkara yang mudah. Hal ini disebabkan karena tasawuf senantiasa mengalami perubahan disetiap periode dan zaman tertentu, dan oleh sebab ini disetiap periode memiliki cirri khas tersendiri. Misalnya pada abad ke dua, konsepsi yang dipahami oleh Abu Hasyim Kufi, Dawud Thaii dan Hasan Basri berbeda dengan konsepsi yang dipahami oleh Junaid dan Yazid Bastami. Sebagaimana pemahaman tasawuf Junaid berbeda dengan Abu Said Abulkhaeir dan Maulana Jalaluddin Rumi.

Definisi tasawuf dan sufi yang telah dipaparkan oleh para ahli tasawuf bisa mencapai ribuan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini kami hanya mengutip beberapa definisi saja mengenai hal tersebut.

Abdurrazaq Kashani mendefinisikan bahwa tasawuf ; “ attasawuf huwattakhalluq bil akhlaqillah “. Tasawuf adalah mencerap akhlak Ilahi.

Ibn Arabi meyakini bahwa tasawuf ; “ melaksanakan adab – adab syariat baik secara zahir maupun secara bathin “.

Junaid meyakini bahwa tasawuf : “ memutuskan segala ketergantungan kecuali pada Allah swt “.

Definisi diatas bukanlah definisi yang melingkupi seluruh unsure – unsure tasawuf yang ada. Akan tetapi lebih pada ungkapan kondisi spiritual yang dialami oleh seorang Arif.

 

Perbedaan antara Tasawuf dan Irfan

 

Sebagaimana kita ketahui bahwa kata Tasawuf muncul pada pertengahan abad pertama dan kata Irfan muncul di abad ketiga walaupun kata tersebut sebenarnya sudah digunakan jauh sebelumnya. Jika kita mencermati diantara keduanya, yakni antara Irfan dan Tasawuf. Terdapat perbedaan tertentu diantara keduanya.

Syahid Murtadha Muthahhari meyakini bahwa perbebadaan tersebut adalah bahwa  Irfan tinjauannya pada sisi budayanya, sedangkan tasawuf tinjauannya pada sisi sosialnya. Maksud dari sisi budaya adalah berkaitan dengan pengetahuan seorang Arif, misalnya pengetahuan seorang Arif tentang eksistensi, hubungan Antara Khaliq dan Makhluk.tajalli dll. Sedangkan maksud dari sisi sosial adalah berkaitan dengan kehidupan seorang Arif sehingga biasa kita sebut dengan berkehidupan sufi, misalnya tata cara pakaian dalam pandangan sufi, tata cara makan, tata cara wirid dll.

Oleh Karena itu, tidak ada perbedaan yang signifikan antara Irfan dan Tasawuf. Yang ada hanya sisi penekanan saja. Irfan berkaitan dengan pengetahuan seorang Arif, sedangkan tasawuf berkaitan dengan tata cara kehidupan seorang sufi

KENALI BATU DAN KARAKTER ANDA Mei 18, 2008

Posted by neofilsafat in mistik.
add a comment

apakah anda tahu disekitar kita terdapat beragam energi ?
apakah anda tahu dibadan kita terdapat cakra ( pusat keluar masuknya energi ) dimana dengan masuknya energi negatif dapat menyebabkan kerusakan pada cakra tersebut dan mengakibatkan manusia akan terkena penyakit psikis dan jasmani ?
apakah anda tahu bahwa sebagian dari batu dan permata memiliki energi yang banyak dan bermanfaat ?

GUNAKANLAH BATU YANG SESUAI DENGAN BULAN KELAHIRAN ANDA SEHINGGA DAPAT MENINGKATKAN KESEHATAN DAN ENERGI ANDA

Setiap batu yang dapat menyembuhkan ( dengan izin Allah swt ) memiliki keterkaitan khusus dengan bulan tertentu, dimana jika orang – orang yang lahir pada bulan tersebut menggunakan batu tersebut akan memberikan efek yang luar biasa. Setiap orang berdasarkan tanggal kelahirannya bisa saja mempunyai karakteristik serta memiliki ciri alamiah yang berbeda, kelemahan dan kekuatan yang berbeda – beda. Batu tersebut bisa meningkatkan sisi positif kita dan mengurangi sisi kelemahan kita. Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa jika batu tersebut digunakan pada bulan tertentu tidak memiliki faedah pada bulan lainnya.

CAPRICORNUS ( 22 Des – 19 Jan )
Unsur : tanah
Karakteristik : suka berimajinasi, pencari kebenaran, dapat dipercaya, memiliki cita-cita tinggi, bertanggungjawab, temperamental, suka mengkhayal
Batu yang cocok dipakai : turmalin hijau dan hitam, yakut kabud, batu bulan, malakit

AQUARIUS ( 20 Jan – 17 Feb )
Unsur : udara
Karakteristik : mandiri, kreatif, cerdas, familiar, dan tegas
Batu yang cocok dipakai : akik, firuz, yakut kabud, omitis, dan topaz biru.

PISCES ( 18 Feb – 19 Mrt )
Unsur : air
Karekteristik : mencintai kebaikan, pencari hakekat, penolong, sentimental, kurang pede dan mudah terpengaruh
Batu yang cocok dipakai : mutiara, amitis, piruz, epal, batu bulan, aquamarine dan marjan.

ARIES ( 20 Mrt – 19 Apr )
Unsur : api
Karakteristik : aktif, mengambil keputusan dengan pikirannya, memiliki tujuan, petualang dan positif thinking
Batu yang cocok dipakai : akik merah, akik pohon, yakut, hematit, mata kucing dan intan.

TAURUS ( 20 Apr – 19 Mei )
Unsur : tanah
Karekteristik : memiliki langkah yang tetap, tradisionil dan mencintai nilai, kreatif, materialisme dan mencintai kehidupan yang tetap.
Batu yang cocok dipakai : akik merah, akik pohon, zamrud, firuz dan yakut kabud.

GEMINI ( 20 Mei – 20 Jun )
Unsur : udara
Karakteristik : pencari hakekat, lebih mendahulukan akalnya ketimbang perasaannya, pemaaf, menjauhi pekerjaan yang rumit, tidak ingin menerima tanggung jawab, secara lahiriyah kelihatannya tidak berperasaan.
Batu yang cocok dipakai : akik, batu bulan, yakut kuning, sitrin, aquamarine, topaz emas, batu kristal dan kahreba.

CANCER ( 21 Jun – 21 Jul )
Unsur : air
Karakteristik : familiar, berperasaan, suka mengkhayal, sentimental, sangat khawatir akan masa depan, cepat stress dalam menghadapi masalah.
Batu yang cocok dipakai : akik merah, akik pohon, yakut, zamrud, epal, batu bulan, mutiara dan topaz.

LEO ( 22 Jul – 22 Agust )
Unsur : api
Karakteristik : suka berangan – angan, bertipe pemimpin, pede, berakhlak mulia, aktif
Batu yang cocok dipakai : intan, yakut, topaz emas, batu kristal, mata kucing

VIRGO ( 23 Agust – 21 Sept )
Unsur : tanah
Karakteristik : bertanggung jawab, pencinta ilmu, analisis, teliti dan disiplin, bertanggungjawab
Batu yang cocok dipakai : akik merah, topaz emas, firuz, mata kucing, zamrud.

LIBRA ( 22 Sept – 22 Okt )
Unsur : udara
Karakteristik : positif thinking, banyak berasumsi, sosial, artistik, tenang, sabar dan cerdas.
Batu yang cocok dipakai : epal, akik merah, turmalin, aquamarine, intan, marjan merah.

SCORPIO ( 23 Okt – 21 Nov )
Unsur : air
Karakteristik : mencintai hakekat, dapat dipercaya, amanah, aktif, mengambil keputusan dengan iradah, biasa menyembunyikan pekerjaan.
Batu yang cocok dipakai : akik, yakut kuning, amities, turmalin merah, hamatit, sitrin dan zabarjad.

SAGITARIUS ( 22 Nov – 21 Des )
Unsur : api
Karakteristik : tenang dan sabar, positif thinking, teliti, bagus perangainya dan indah katanya, menjauh dari keterbatasan
Batu yang cocok dipakai : piruz, amitis, topaz biru,

Lalai, Virusnya Jiwa Mei 18, 2008

Posted by neofilsafat in akhlak, tasawwuf.
Tags:
add a comment

LALAI

Setelah kita membahas pengertian Irfan dan Tasawwuf dalam edisi sebelumnya. Dalam edisi kedua ini saya ingin mengajak para pembaca untuk menelusuri lebih jauh mengenai persoalan Tazkiyatun Nafs ( sair suluk ). Namun sebelum kita masuk dalam persoalan tersebut, baiknya jika kita mengetahui sebelumnya tentang hal – hal apa sajakah yang menghalangi proses tazkiyatun nafs.

Salah satu yang penghalang dalam proses tazkiyatun nafs adalah lalai.  “ Lalai ” dalam terminologi akhlak dianggap sebagai penghalang, sedangkan “ sadar “ dipandang sebagai sebuah kemestian dalam proses “ tazkiyyatun-nafs “. Langkah pertama dalam sair-suluk adalah manusia harus meyakini bahwa dirinya “ belum sempurna “, karena itu dia harus “ menyempurna “. Dari “ belum sempurna “ ke “ menyempurna “ terdapat gerak perjalanan, artinya ia sedang musafir dan membutuhkan petunjuk untuk sampai pada tujuannya. Mereka yang lalai dan belum mengetahui bahwa dirinya musafir maka ia akan tetap diam pada tempatnya. Sebagaimana Sa’di berkata ;

kita telah melewati kawanan perampok

sebuah istana sedang menanti

yang berangkat, beruntung

yang tinggal, mati

mereka yang sedang berangkat, tetapi ia tidak mengetahui bahwa dirinya musafir bahkan ia tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diintai oleh kawanan perampok. Disaat dirinya tertidur dan terlelap tentunya akan menjadi tawanan perampok. Namun jika ia tetap terjaga dan tetap beranjak, maka ia akan sampai pada tujuan. Syaitan dengan lantang mengatakan     لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِراطَكَ الْمُسْتَقيمَ saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus ( Al-‘araf ; 16 ).

Mereka yang mengetahui bahwa dirinya musafir. Tentunya, ia akan terus berfikir untuk beranjak. Jika demikian halnya maka dirinya pun akan terus berusaha untuk mencari petunjuk atau nasehat – nasehat tertentu, sebagai bekal dirinya untuk sampai pada tujuannya.

Dalam bahasa Syariat, mereka yang bukan ahli sair-suluk disebut sebagai “ tertidur “ atau “ mabuk “. Yang disebut dengan mabuk adalah mereka yang membungkus akalnya dengan arak. Oleh karena itu, harta-benda, kemasyhuran, kesombongan, popularitas dan semacamnya juga digolongkan sebagai hal – hal yang memabukkan. Karena hal – hal yang disebutkan diatas, membungkus akal manusia dan tidak membiarkan manusia “ sadar “ dan “ bergerak “.

Ala kulli hal, mereka yang tidak mengetahui bahwa dirinya “ belum sempurna “ sehingga butuh untuk “ menyempurna “, atau mereka yang tidak mengetahui bahwa dirinya “ butuh “ sehingga “ wujud yang tidak butuh pada sesuatu apapun “ akan memenuhi kebutuhannya, atau mereka yang tidak mengetahui bahwa dirinya musafir sehingga ia harus bergerak, maka mereka semuanya digolongkan sebagai orang – orang yang masih dalam kondisi “ tidur “. Pada saat inilah mereka akan digiring pada tempat yang ia tidak inginkan sama sekali. Sebab suka atau tidak diri kita pasti bergerak. Dalam surah Al-anbiya ; 34    وَما جَعَلْنا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخالِدُونَ Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelummu (Muhammad). Maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal?

Tidak seorangpun didunia ini berada dalam kondisi diam. Dunia bukanlah tempat istirahat, sebagaimana pula alam barzakh dan alam kubur bukan tempat peristirahatan. Jika di tempat kuburan biasa kita ketemukan tulisan “ tempat peristirahatan “, hal ini disebabkan karena hal tersebut dibandingkan dengan dunia, namun barzakh jika dibandingkan dengan qiamat bukanlah tempat peristirahatan, walaupun sebenarnya mereka yang dibarzakh telah melakukan usaha dialam dunia. Akan tetapi selama mereka masih di alam barzakh, mereka masih gelisah dan risau hingga mereka sampai ke surga yang merupakan tempat peristirahatan yang hakiki. Oleh sebab itu, surgalah yang merupakan tempat peristirahatan yang hakiki.

Dalam Munajat Sya’baniyah diisyaratkan tentang “ sadar “ dari “ kelalaian  اللهم لم یکن لی حول فأنتقل به عن معصیتک الاّفی وقت ایقظتنی لمحبتک  wahai tuhanku, kami telah lalai dan kami belum mendapatkan taufik untuk bergerak, hingga  suatu saat Engkau bangunkan kami dengan cintamu .  

Namun untuk bangun diperlukan tekad dan usaha tertentu. Anjuran para Nabi ketika sampai ditelinga mereka, tentunya akan membangunkan mereka, sekalipun orang tersebut dalam keadaan tertidur. Tetapi jika tidur mereka sangat berat, anjuran Nabi tersebut tidak akan bisa membangunkan  mereka, sebab tidur mereka sangat berat. Oleh sebab itu Allah swt berpesan pada Rasulullah saw ; وماانت بمسمع من فی القبور kamu sekali-kali tiada dapat memperdengarkan (seruanmu) kepada orang yang berada dalam kubur ( surah Fathir ; 22 ).

Namun jika seseorang terjaga dan memahami bahwa dirinya harus beranjak, jika ia tetap tidak beranjak artinya ia tinggal dua saat dalam satu kondisi, maka orang ini digolongkan sebagai orang yang merugi, sebagaimana sabda Rasulullah saw ; من استوی یوماه فهومغبون

jika dua harinya seseorang tidak berbeda sama-sekali berarti orang tersebut adalah orang yang merugi. Maksud dari “ hari “ disini bukan siang dan malam, dan bukan siang yang diperhadapkan dengan malam. Oleh Karena itu, jika dua jamnya bahkan dua detiknya tidak berbeda sama sekali maka orang tersebut termasuk orang yang merugi. Sebab umurnya berlalu begitu saja tanpa mendapatkan apa – apa. Tapi jika seseorang senantiasa mengingat Allah swt, dua menitnya bahkan dua detiknya pun tidak sama.   sebagaimana dijelaskan dalam Al-qur’an :

وَ اذْكُرْ رَبَّكَ في‏ نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَ خيفَةً وَ دُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَ الْآصالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغافِلينَ Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. ( Al-‘araf ; 205 )

Setiap saat dirinya semakin dekat kepada Allah swt. Ia mengetahui bahwa tahapan saat ini jika dibandingkan dengan tahapan selanjutnya adalah “ kekurangan “, sedangkan tahapan saat ini jika dibandingkan dengan tahapan sebelumnya adalah “ kesempurnaan “. Oleh karena itu syarat pertama dalam syair – suluk adalah “ kesadaran “ . dari kesadaran inilah yang akan mengantarkan manusia untuk beranjak, dan dalam musafir dibutuhkan wejangan, kendaraan, petunjuk dan pengetahuan.

LALAI, VIRUSNYA JIWA

Lalai adalah salah satu penghalang menuju Allah swt. Dalam defini agama lalai disebut sebagai “ rijsun “ yang bermakna kotoran dan mengotori. Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib as berkata ; “ Lalai menyesatkan jiwa “. Lalai membuat jiwa menjadi tersesat.

Boleh jadi ada yang beranggapan bahwa perkataan diatas – lalai sebagai kotoran jiwa – hanyalah bersifat majazi. Tapi sebagaimana kita ketahui bahwa manusia memiliki sisi lahiriyah dan juga sisi bathiniyah. Dihari qiamat nantilah akan nampak hal – hal yang bersifat bathiniyah. Dihari qiamat nanti sebagian orang akan dibangkitkan dengan wajah yang penuh cahaya, putih dan bersih, dan sebagian lagi akan dibangkitkan dengan wajah hitam, jelek dan bernanah karena makanan mereka adalah makanan dari nanah dan darah. Sebagaimana dalam surah Haqqah ; 35-37   لا يَأْكُلُهُ إِلاَّ الْخاطِؤُونَ # وَلا طَعامٌ إِلاَّ مِنْ غِسْلينٍ # فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هاهُنا حَميمٌ    artinya  ; Maka ia tidak memiliki seorang teman pun pada hari ini di sini # dan tiada (pula) makanan sedikit pun kecuali dari darah dan nanah # yang tidak akan dimakan kecuali oleh orang-orang yang berdosa #.

Segala kerugian yang menimpa kita bersumber dari faktor diluar diri kita, akan tetapi “ lalai “ didalam diri kita. Jika dalam diri kita terdapat benteng keyakinan dan kesadaran, maka kita akan terhindar dari nestapa, karena tiap satu kelalaian setara dengan sebuah anak panah. Sebagaimana dijelaskan dengan indah dalam sebuah Hadits ; “ tidak satupun seekor burung yang akan terkena anak panah ketika mereka berzikir mengingat Allah swt. Setiap anak panah yang mengenai tubuh seekor burung atau hewan lainnya, pastilah hewan tersebut dalam keadaan lalai “. Hadits ini selain memberikan muatan pengetahuan dan keyakinan yang cukup tinggi, namun memberikan kita pula unsur tarbiyah. Jangan sampai kita lalai terhadap Allah swt dan juga lalai akan ayat – ayatNYA.

Siapa saja yang lalai dari Allah swt dan juga lalai akan ayat – ayatNYA, tentunya mereka tidak memiliki proses tazkiyatun nafs. Ruh manusia ketika berhadapan dengan kejadian – kejadian, baik yang bersifat indah maupun yang bersifat buruk, tentunya pada saat yang sama ia pun akan merasakan kondisi yang baru, dan kondisi baru tentunya membutuhkan hukum yang baru pula, kemudian akhlaqlah dalam hal ini yang berkompeten dalam memberikan hukum baru tersebut. Seseorang yang lalai terhadap fenomena dirinya, tentunya ia pun tak mampu mempersepsi objek – objek akhlak, selanjutnya ia pun tak mampu menentukan hukum – hukum akhlaq. Kondisini inilah yang kemudian membawanya pada wilayah kemaksiatan tanpa ia sadari. Itulah sebabnya mengapa kita diperintahkan untuk menghindari kelalaian. Imam Shodiq as berkata ; “ jauhilah kelalaian, karena akan merugikan jiwa kalian “.  Jika kita menjauhi kelalaian berarti kita telah menjauhi kerugian jiwa.

Hadit diatas sesuai dengan pesan Al-qur’an dalam surah Muhammad saw ; ayat 38 ; “  وَ مَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّما يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ “. dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dalam ayat ini menjelaskan bahwa mereka yang kikir, pada hakekatnya hanya akan merugikan diri mereka sendiri, mereka berpikir untuk menyimpannya dimasa mendatang tapi pada hakekatnya mereka tidak menyimpannya.

Al-qur’an Al-karim dalam surah Al-baqarah ; 110 Allah swt Berfirman ;” وَ مَا تُقَدِّمُوْا لِأَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللهِ . Setiap kebaikan yang kamu usakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapatkannya di sisi Allah “. Kemudian Allah swt tidak mungkin khianat kepada apa yang telah dijanjikannya.

Kelalaian – kelalaian yang berkaitan dengan harta ataupun semacamnya tentunya akan mengakibatkan kerugian duniawi. Akan tetapi, lalai dari tazkiyah dan lalai dari mensucikan ruh adalah lalai dari jiwa dan akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Karena kita telah menghilangkan potensi yang ada. Oleh sebab itu Allah swt berfirman ; “إِنَّ الْإِنْسانَ لَفي‏ خُسْرٍ # وَ الْعَصْرِ  . Demi masa, # sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian “. Itulah sebabnya mengapa terdapat sebagian orang yang terasing dari dirinya sendiri. Syaitan pun pada hakekatnya tidak ada urusan dengan harta, tahta dan keturunan. Urusan syaitan satu – satunya hanya berkaitan dengan keimanan manusia. Jika syaitan memancing jiwa kita dan syaitan berhasil memerangkap jiwa kita, maka pada saat itulah, kaki dan tangan kita terbuka pada hal – hal yang bersifat haram. Akan tetapi tertutup pada hal – hal yang bersifat kebaikan.